Rabu, 28 Januari 2009

MEMBANGKITKAN MINAT BELAJAR SISWA DI SEKOLAH

MEMBANGKITKAN MINAT BELAJAR SISWA DI SEKOLAH
Oleh: IBRAHIM, M.Pd.



Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya baik secara formal maupun non formal. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah dengan adanya perubahan tingkahlaku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.
Proses belajar formal seperti di sekolah, pada intinya tertumpu pada suatu persoalan yaitu bagaimana guru memberi kemungkinan bagi siswa agar terjadi proses belajar yang efektif atau dapat mencapai hasil sesuai dengan tujuan. Persoalan ini membawa implikasi sebagai berikut: (a). Guru harus mempunyai pegangan asasi tentang mengajar dan dasar-dasar teori mengajar.(b). Guru harus dapat mengembangkan sistem pengajaran. (c).Guru harus mampu melakukan proses belajar mengajar yang efektif, dan (d). Guru harus mampu melakukan penilaian hasil belajar sebagai dasar umpan balik bagi seluruh proses yang ditempu.
Empat poin ini tentu belum cukup dalam suatu proses pembelajaran, sebab guru bukan hanya mengelolah pengajaran tetapi seorang guru juga harus mampu mengelolah kelas agar sasaran dan tujuan proses pembelajaran dapat tercapai. Salah satu yang perlu diperhatikan oleh guru adalah minat belajar siswa sebab minat merupakan kesiapan untuk bertindak, yang diharapkan akan mempengaruhi aktivitas dan perilaku siswa dalam merespon kegiatan atau aktivitas pembelajaran. Apa jadinya kalau siswa tidak berminat dalam belajar apalagi jam-jam terakhir, kita akan mendapati prilaku siswa yang mengantuk, minta ijin ke kamar kecil padahal nongkron di kanting dan lebih fatal lagi akhirnya siswa tersebut pulang dari sekolah sebelum waktunya. Indikasi ini perlu diamati oleh guru dan mencari solusi dengan cara memberi motivasi agar minat siswa dalam belajar meningkat.
Banyak cerita-cerita lucu yang penulis dapatkan dari siswa, tentang proses belajarnya di sekolah, antara lain cerita siswa tentang guru sepanjang pembelajaran hampir seratus kali menyebut “ ya”, dan gaya mengajar guru yang hanya mencatat dan mendikte bahan pelajaran. Dua cerita siswa ini cukuplah mewakili kesimpulan penulis bahwa pada dasarnya siswa kurang berminat dalam belajar yang dilakukan oleh seorang guru dengan model seperti cerita ini.
Minat Belajar
Mengutip dua defenisi minat yang dikemukakan oleh Slameto (1995), bahwa minat adalah suatu suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh, selanjutnya Slameto menyatakan bahwa pada dasarnya minat adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu dari luar diri . Semakin kuat atau semakin dekat hubungan tersebut semakin besar minat.
Minat besar pengaruhnya terhadap proses belajar. Bila bahan pelajaran yang disajikan oleh guru tidak sesuai dengan minat siswa , maka siswa tersebut tidak mempunyai daya tarik. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam rangka memaksimalkan suatu aktivitas, faktor minat yang tumbuh dalam diri seseorang haruslah dimaksimalkan karena tanpa adanya minat untuk melakukan suatu aktivitas belajar, maka sulit bagi seseorang untuk melakukan suatu aktivitas dengan berdaya guna dan berhasil guna.
Jika terdapat siswa yang kurang berminat untuk belajar, maka di usahakan agar siswa tersebut dapat mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menggunakan metode yang efektif serta menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan dan hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita yang ada kaitannya dengan bahan pelajaran yang dipelajar tersebut.
Minat dapat dibagi dalam beberapa bagian yaitu’’ Minat timbul dengan sendirinya disebabkan karena adanya kemauan dan minat yang tidak disengaja ‘’ hal ini dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Minat timbul dengan sendirinya disebabkan karena adanya kemauan
Kemauan yang kuat merupakan senjata ampuh dalam mengahadapi semua rintangan. Misalnya seorang anak yang ingin mendapat prestasi belajar yang lebih baik, mereka akan terus berusaha sampai tujuan tersebut dapat tercapai
b. Minat yang tidak disengaja
Minat yang tidak disengaja adalah minat yang timbul karena adanya perangsang dari luar. Rangsangan tersebut akan berorientasi terhadap lingkungan sekitar seperti pengaruh lingkungan itu sendiri, atau dari dorongan orang lain teman dan sebagainya
Selanjutnya Thaha dkk (1999) mengemukakan bahwa ‘’minat dapat digolongkan atas dua bagian yaitu minat primitif dan minat kulturil’’yang kemudian penulis coba menguraikan satu persatu yaitu:
a. Minat primitif
Minat primitif sering diartikan sebagai minat biologis yaitu minat yang didasarkan kepada kebutuhan-kebutuhan jaringan sehingga tidak lepas kepada soal makan, minum dan sebagainya. Minat biologis merupakan minat awal yang terdapat dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan organisme tubuh. Makin lama minat primitif ini akan semakin meningkat dan terasa dalam kebutuhan yang lebih luas misalnya : berminat belajar serta minat untuk memenuhi segala kebutuhan yang lain
b. Minat kulturil
Minat kulturil adalah suatu minat yang berada pada tingkat yang merupakan hasil dari pendidikan melalui perbuatan belajar. Apabila minta primitif berorientasi pada kebutuhan biologis, maka minat kulturil dapat dikatakan lebih berorientasi pada kebutuhan yang bersifat psikologis.
Oleh karena itu seorang guru harus memperhatikan beberapa komponen yang berhubungan dengan interaksi belajar. Dimana dalam setiap proses pembelajaran akan terajadi interaksi aktif dari berbagai unsur komponen yang terjadi secara terpadu. Menurut Langeveld (Hadi Supeno 1995), menjelaskan ada lima komponen yang berinteraksi secara aktif dengan pendidikan yaitu : (a). Komposisi tujuan pendidikan, sebagai landasan idiil kemana arah pendidikan dan dicapai melalui proses pendidikan tersebut. (b). Komponen terdidik, sebagai masukan manusiawi yang diperlukan sebagai subyek yang aktif dan dikenai proses pendidikan tersebut.(c). Komponen alat pendidikan, sebagai unsur sarana atau obyek yang dikenakan kepada terdidik dalam proses pendidikan.(d). Komponen pendidik, sebagai unsur manusiawi yang membantu mengenakan alat pendidikan kepada terdidik dan mengarahkan proses pendidikan menuju sasaran yang diharapkan sebagaimana termaktub dalam tujuan pendidikan, dan (e). Komponen lingkungan pendidikan, sebagai unsur suasana yang membantu dan memberikan udaras egar dalam proses pendidikan.
Kelima unsur di atas memberikan gambaran perlunya memperhatikan kondisi siswa dalam belajar, seperti yang dijelaskan di atas pada komponen ke dua bahwa siswa adalah merupakan, masukan manusiawi yang diperlukan sebagai subyek yang aktif dan dikenai proses pendidikan. Sehingga diharapakan seorang guru menata, dan membangkitkan minat belajaranya.
Membangkitkan Minat Belajar
Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada suatu objek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat siswa yang telah ada. Disamping memanfaatkan minat yang telah ada, para pengajar juga berusaha membentuk minat-minat baru pada diri siswa. Ini dapat dicapai dengan jalan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara satu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu serta menguraikan kegunaannya bagi siswa dimasa yang akan datang.
Berdasarkan beberapa uraiannya di atas maka penting artinya bagi guru menciptakana kondisi yang sebaik-baiknya serta memiliki wawasan luas tentang karakteristik metode mengajar yang tepat sehingga pada gilirannya akan meningkatkan minat belajar siswa Menurut Ibrahim (1991), guru setidak-tidaknya menjalankan tiga macam tugas utama yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Merencanakan
Perencanaan yang dibuat, merupakan antisipasi dan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan dalam pengajaran, sehingga tercipta suatu situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan yang diharapkan. Perencanaan ini meliputi :
a. Tujuan apa yang hendak dicapai, yaitu bentuk-bentuk tingkahlaku apa yang diinginkan dapat
dicapai atau dapat dimiliki oleh siswa setelah terjadinya proses belajar mengajar.
b. Bahan pelajaran yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan.
c. Bagaimana proses belajar-mengajar yang akan diciptakan oleh guru agar siswa mencapai
tujuan secara efektif dan efisien.
d. Bagaimana menciptakan dan menggunakan alat untuk mengetahui atau mengukur apakah
tujuan itu tercapai atau tidak.
2.Melaksanakan pengajaran.
Pelaksanaan pengajaran selayaknya berpegang pada apa yang tertuang dalam perencanaan. Namun situasi yang dihadapi oleh guru dalam melaksanakan pengajaran mempunyai pengaruh besar terhadap proses belajar mengajar itu sendiri. Oleh sebab itu guru sepatutnya peka terhadap berbagai situasi yang dihadapi, sehingga dapat menyesuaikan pola tingkahlakunya dalam mengajar dengan situasi yang dihadapi. Situasi pengajaran itu sendiri banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
a. Faktor guru, setiap guru mempunyai gaya mengajar tersendiri sehingga gaya mengajar
mencerminkan bagaimana pelaksanaan pengajaran guru yang bersangkutan yang dipengaruhi
oleh pandangannya sendiri tentang mengajar, konsep-konsep psikologi yang digunakan, serta
kurikulum yang dilaksanakan.
b. Faktor siswa, Setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun kepribadian
dan hal inilah yang mempengaruhi terhadap situasi yang dihadapi dalam proses belajar
mengajar.
c. Faktor kurikulum, kurikulum menggambarkan tujuan yang hedak dicapai dalam belajar
sehingga kurikulum merupakan alat pembentuk perubahan tingkahlaku yang diharapkan
dapat dicapai siswa melalui proses belajar yang beraneka ragam. Dengan demikian baik bahan
maupun pola interaksi guru siswa pun beraneka ragam pula. Hal ini dapat menimbulkan situasi
yang bervariasi dalam proses belajar mengajar.
d. Faktor lingkungan. Lingkungan ini meliputi keadaan ruangan , tata ruang dan berbagai situasi
fisik yang ada di sekitar kelas atau di sekitar tempat berlangsungnya proses belajar mengajar.
Lingkungan ini pun dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi situasi belajar.
3.Memberikan balikan
Memberikan balikan kepada siswa mempunyai fungsi untuk membantu siswa memelihara minat dan antusias siswa dalam melaksanakan tugas belajar. Salah satu alasan adalah bahwa belajar itu ditandai oleh adanya keberhasilan dan kegagalan. Upaya memberikan balikan harus terus dilakukan secara terus menerus. Hal ini bertujuan memberikan minat dan antusias siswa dalam belajar selalu terpelihara.
Berdasarkan beberapa uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam upaya membangkitkan minat belajar siswa, seorang guru harus dapat merancang pembelajaran dengan berbagai upaya sebagai berikut: memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi situasi pengajaran antara lain faktor siswa, guru, kurikulum dan faktor lingkungan. Selain itu seorang guru harus berupaya memberikan balikan yang dilakukan secara terus menerus. Hal ini bertujuan memberikan minat dan antusias siswa dalam belajar agar selalu terpelihara dan tertib, secara otomatis akan mempengaruhi terciptanya pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar